Pages

Rabu, 19 Desember 2012

PERIODESASI WEDA (Zaman Weda)



  Oleh: Ati Puspita



PENDAHULUAN
Agama Hindu merupakan agama jutaan penduduk India. Agama yang sama sekali tidak memiliki bentuk dan merupakan suatu unsur himpunan yang tidak sama dan tidak tetap. Hindu diibaratkan sebuah bola salju yang menggelinding dan semakin membesar, karena menghisap semua yang dilaluinya, tanpa ada yang tertinggal dan tanpa ada yang dibuang. Terhadap Hinduisme, tidak dapat diterapkan rumusan seperti biasa untuk merumuskan agama, karena: [1]

*      Tidak mempunyai  pendiri, sehingga tidak dapat disimpulkan dari khutbah atau ajaran yang menyatakan siapa dia berasal.
*      Para pemeluknya tidak diharuskan untuk mempercayai suatu keyakinan tertentu mengenai Tuhan, manusia, dan alam.
*      Tidak ada sesuatupun pangakuan iman yang disepakati oleh para pengikutnya.
*      Tidak ada suatu organisasi keagamaan yang menghimpun semua penganutnya.
Sekarang pengetahuan tentang sejarah bangsa Arya itu lebih lengkap dan lebih jelas daripada sejarah bangsa-bangsa asli India di zaman purbakala. Bangsa dravida lama-kelamaan dipengaruhi oleh bangsa Arya, sehingga terjadilah pertempuran kebudayaan dan agama baru. [2]
Sebagaimana telah disebutkan bahwa Hindu timbul dari dua arus utama yang membentuknya, yaitu agama (bangsa) Dravida dan agama (bangsa) Arya, dalam perkembangannya di India lalu ada usaha-usaha untuk memasukan berbagai macam kepercayaan yang ada, filsafatnya, dan praktek-praktek keagamaannya dalam suatu sistem yang sekarang ini disebut dengan Agama Hindu. Agama bangsa Arya kita kenal dari kitab-kitabnya yang mengenai agamanya, yakni kitab-kitab Weda (Weda yang berarti tahu). Oleh karena itu masa yang tertua dari agama Hindu disebut Masa Weda.

ZAMAN WEDA
Zaman ini dimulai dari datangnya bangsa Arya kurang lebih 2500 tahun Sebelum Masehi ke India, dengan menempati lembah sungai Sindhu, yang juga dikenal dengan nama Punyab (daerah lima aliran sungai). Bangsa Arya tergolong ras Indo-Eropa, yang terkenal sebagai pengembara cerdas, tangguh dan terampil. [3]
Zaman Weda merupakan zaman penulisan wahyu suci Weda yang pertama yaitu RigWeda. Kehidupan beragama pada zaman ini, didasarkan atas ajaran-ajaran yang tercantum pada Weda Samhita, yang lebih banyak menekankan pada pembacaan pelafalan ayat-ayat Weda, yaitu dengan menyanyikan dan mendengarkan secara berkelompok. Weda adalah kitab suci Agama Hindu. Sumber ajaran Agama Hindu adalah kitab suci Weda. Semua ajarannya bernafaskan Weda. Weda menjiwai ajaran agama Hindu, karena itu agama Hindu mengakui kewenangan ajaran kitab suci Weda. Weda adalah wahyu atau sabda suci Tuhan Yang Maha Esa / Hyang Widhi Wasa, yang diyakini oleh umatnya sebagai anandi-ananta yakni tidak berawal dan tidak diketahui kapan diturunkan dan berlaku sepanjang masa.
Namun di kalangan sarjana, baik Hindu maupun barat telah berusaha untuk menentukan kapan sebenarnya Weda itu diwahyukan. [4]
Kehidupan keagamaan umat Hindu didasarkan pada naskah suci yang disebut Weda Samhita, yang mereka yakini sebagai ciptaan Brahma. [5] Hanya para Resi saja yang mampu menerima isi Weda tersebut. Isi Weda pada mulanya berbentuk mantra-mantra, kemudian disusun dalam bentuk puji-pujian.

Kitab suci Weda terdiri dari empat Samhita, yaitu:
*      RigWeda.
RigWeda berasal dari kata “Rig” yang berarti memuji. Kitab ini berisi 1000 puji-pujian kepada dewa dalam bentuk Kidung, dan masing-masing Kidung (sukta) terbagi lagi dalam beberapa Bait. Bagian akhir RigWeda membicarakan perawatan orang mati, pembakarannya dan pengamburannya menurut umat Hindu, RigWeda ini sangat penting di dalamnya terdapat pengertian dan isyarat akan Agama mamoteistis dengan falsafah yang monistik [Itulah yang maha Esa. Orang-orang suci memberinya agama yang bermacam. Mereka menyebutnya dengan Agni Yama dan Matariwan (RigWeda I, 164:44)].
*      SamaWeda.
SamaWeda merupakan suatu bunga-rampai RigWeda, dan sangat menekankan pada tanda-tanda irama musik. SamaWeda terdiri dari 1549 bait. Puji-pujian dinyanyikan diikuti irama musik oleh para pendeta yang disebut Udgatr, dan biasanya dilakukan pada upacara korban diselenggarakan.
*      YajurWeda.
Weda ini tidak hanya mnemuat mantra-mantra dan persembahan soma saja, akan tetapi mantra-mantra yang diucapkan dalam beberapa upacara kecil. YajurWeda memiliki hubungan yang sangat erat dengan RigWeda dan SamaWeda, dan ketiga-tiganya sering disebut dengan Triwedi. [6]
*      AtharwaWeda.
Para atharwan adalah golongan pendeta tersendiri. Dalam Weda ini dijumpai kidung-kidung yang harus di ucapkan pada waktu mempersembahkan soma. Isi AtharwaWeda berupa mantra-mantra magis dan doa-doa yang bunyi dan artinya sendiri dianggap sudah memiliki kekuatan.

Dalam kitab-kitab Weda tidak terdapat uraian mengenai doktrin-doktrin maupun amalan-amalan ajaran Hindu yang khas. Tidak ada pemujaan terhadap patung, tidak ada hal-hal yang berhubungan dengan ritus permandian di sungai-sungai yang dianggap suci, tidak ada uraian tentang pertapaan di hutan, dan tidak ada praktek yoga maupun pertarakan, juga tidak ada ajaran avatar atau penjelmaan. [7]
Weda sebagai sumber ajaran agama Hindu terdiri dari kitab Sruti dan Smrti.
Sruti adalah wahyu sedangkan Smrti adalah kitab yang menguraikan komentar, penjelasan atau tafsir terhadap wahyu. Materi Weda diuraikan pada Sruti dan smrti. Sruti menurut sifat dan isinya dibedakan atas empat bagian: [8]
(1)   Mantra
(2)   Brahmana
(3)   Aranyaka
(4)   Upanisad

A.    DEWA - DEWA
Dewa-dewa yang dipercayai kedudukannya lebih tinggi, karena bersikap murah pada manusia dan berkenan menerima pujaan dan pujian manusia. Dewa-dewa salalu dihadirkan dalam menyelamatkan dari gangguan-gangguan roh jahat. Mengenai Dewa-dewa dalam Rig Weda disebutkan ada 33 Dewa, dibedakan atas: Dewa-Lewa langit, Dewa-dewa Angkasa, Dewa-dewa Bumi. [9]
Dewa-dewa langit antara lain adalah Dewa Waruna, yang dipandang sebagai pengawas tata dunia atau Rta. Akibat karya dewa Waruna maka langit teratur, sungai-sungai mengalir dengan baik dan musim-musim datang pada waktunya. Dewa Waruna memberikan hadiah kepada yang mengikuti Rta dan hukuman kepada yang jahat. Selain Waruna juga Dewa Surya dan Dewa Wisnu termasuk Dewa langit. Dewa Surya diyakini dapat memperpanjang hidup dan mengusir penyakit. Dewa Surya digambarkan sebagai menaiki kereta dapat melangkah tiga langkah. Langkahnya yang ke tiga dipandang tertinggi, sebagai surga tempat kedamain para Dewa. [10]
Dewa-dewa angkasa antara lain Dewa Indra dan Dewa Angin. Dewa Indra sering disebut dengan Dewa perang dan mendapat kehormatan yang besar sekali, sebab sering membantu manusia dalam perang. Dewa Indra digambarkan bersenjata panah / wajra. Dewa Angin dipandang sebagai Dewa yang penting juga.

Yang termasuk Dewa-dewa bumi adalah Dewa Pertiwi, dan Dewa Agni. Dewa Pertiwi adalah Dewa bumi yang sering disembah sebagai Dewa Ibu. Dewa Agni juga disebut Dewa Api, yang sering dianggap sebagai perantara antara manusia dan Dewa Agnilah yang meneruskan puji-pujian dan korban bakar kepada para Dewa yang dimaksud. Agni pula yang mendatangkan para Dewa ke tempat-tempat saji dengan bunyi-bunyian dalam Api. Setiap rumah orang Hindu biasanya mempunyai tiga macam api, yaitu api untuk upacara harian (agnihotra), seperti yang sampai saat ini masih terdapat di kalangan keluarga pandit yang ortodoks; api yang untuk upacara tengah bulanan yang dikaitkan dengan bulan baru atau bulan purnama; dan api untuk upacara penghormatan dengan pemujaan arwah leluhur. [11]
Kemudian Dewa Soma, Dewa minuman keras soma yang diperoleh dari perasan tumbuh-tumbuhan yang disebut soma pula. Soma adalah minuman para Dewa. Dalam upacara korban, soma dituangkan sebagai persembahan untuk para Dewa. Hal yang agak aneh ialah bahwa rasa hormat yang luar biasa bukannya yang ditujukan kepada objek ritus itu sendiri tetapi hanya kepada kekuatan soma itu saja. Ada beberapa Dewa lain yang masing-masing kurang jelas urutan kepentingannya. Dewa-dewa tersebut adalah Surya (Dewa Matahari), Wisnu, Si Kembar Aswin atau Nasatya (Dewa Alam Pagi Hari) yang kemudian menjadi Dewa Kesehatan, Usas (dianggap sebagai Dewa Fajar), Marut (Dewa Taufan dan Angin Ribut), Rudra (Dewa Taufan dan Petir), Parjanya (Dewa Pengetahuan).
Dewa-dewa penting sebagai personifikasi kekuatan alam adalah cipta, Barhamananaspati atau Brahaspati (Dewa personifikasi perbuatan manusia alam sesaji), dan Widhatar (Dewa Guntur). [12]
Walaupun dalam agama ini didapati banyak sekali Dewa, namun mereka tidak dapat dikatakan politeistis karena ternyata Dewa tertinggi yang memiliki segala kekuasaan para Dewa yang lain. Dengan demikian hanya ada satu Dewa tertinggi saja yang memiliki segala kekuatan para Dewa, yang namanya berganti-ganti. Oleh karena itu barangkali lebih tepat kalau dikatakan sebagai kepercayaan henoteisme.

Max Muller juga menghindari pemakaian istilah monoteisme atau politeisme dalam ketuhanan agama Hindu. Mereka menggunakan istilah “henoteisme” karena ada kecenderungan melukiskan semua kekuatan pada Tuhan tertentu dan utama yang ada dalam pikiran para pemujanya. Selain dapat disebut sebagai kepercayaan sebagai heneoteistik, barang kali agama ini dapat pula disebut sebagai katenoteisme (khathenotheisme) karena dalam agama ini terdapat kecenderungan untuk memuliakan dan mengagungkan hanya satu Dewa Yang Maha Tinggi yang diperlukan sebagai obyek tunggal. Akan tetapi Dewa-dewa lain terhimpun kepadanya.

B.     ROH – ROH (JAHAT)
Menurut kepercayaan Weda kuno, selain para Dewa masih ada lagi roh-roh jahat. Roh jahat ada dua macam yang tinggi kekuasaannya menjadi musuh para Dewa. Musuh Indra adalah roh jahat yang menguasai musim kemarau (Wrta). Roh jahat yang kurang kekuasaannya adalah Raksa dan Pisaca (pemakan bangkai). Raksa sering menampakan diri sebagai manusia dan binatang. Ada lagi roh “hais” seperti Gandarwa, Yaksa, Bhatu dan Raksasa.
Arwah leluhur sangat penting kedudukannya dalam kepercayaan agama Weda ini. Apabila orang meninggal, jiwanya tidak langsung sampai di alam bahagia tetapi masih mengembara dalam keadaan menderita. Jiwa semacam ini disebut dengan preta, dan sangat membahayakan. Oleh karena itu keturunannya, anak cucu terutama anak laki-lakinya, perlu mengadakan upacara sesembahan dan menyelenggarakan upacara korban supaya petra segera sampai ke alam bahagia yaitu alam pitara. Raja para pitara adalah Dewa Yama.

C.    KORBAN
Umat Weda memuliakan para leluhur mereka dengan menyelenggarakan upacara korban, yamg selain dilakukan dengan harapan supaya para Dewa melindungi manusia dari gangguan roh jahat, juga supaya para Dewa memberikan kelancaran, kemurahan dan ketenangan serta ketentraman. Tujuan utama melakukan upacara korban dalam agama Weda ini ialah terjaminnya tata tertib kosmos. Pelaksanaan korban dipimpin oleh pendeta yang membujuk dan merayu para Dewa untuk mengabulkan permohonan manusia.
Selain itu masih ada korban Rajasuya, korban untuk penobatan dan kedaulatan raja yang diselenggarakan dengan upacra yang disebut Aswameda. Korban-korban ini disertai dengan pengucapan doa-doa yang tersebut dalam RigWeda, irama musik yang diselingi bunyi seruling, makan atau pesta bersama, dan diakhiri dengan pengucapan doa untuk kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Untuk keperluan sehari-hari korban oleh kepala keluarga dari segi penyelenggaraan.
Korban yang dilakukan hanya seorang pendeta saja dirasa kurang memuaskan. Oleh karen itu, biasanya korban diselenggarakan oleh beberapa orang pendeta. Pendeta yang sangat diutamakan biasanya disebut Hotri yang tugasnya adalah menyetir bait - bait yang terdapat dalam RigWeda.
Pendeta Adwaryu juga penting karena dalam penyelenggaraan korban ini dilakukan persiapan-persiapan yang cermat. Ia menunggu api supaya tidak padam dan menyiapkan beberapa macam makanan yang di perlukan. Para Brahmana mengawasi penyelenggaraan korban tersebut. Selama upacara koban berlangsung, kidung-kidung dinyanyikan oleh Udgrati. Upacara korban sehubungan dengan peristiwa suci disebut Samsakara, dan biasanya dilakukan oleh ketiga kasta atas. Yang terpenting adalah upacara-upacara korban yang berkaitan dengan masalah kematian.
 Ada pula upacara korban yang diselenggarakan bersama oleh masyarakat dibantu pejabat lain. Korban diselenggrakan di rumah-rumah atau di altar. Benda yang dipersembahkan biasanya adalah benda-benda yang disukai oleh manusia seperti susu; ghee dan kue-kue yang terbuat dari gandum atau beras. Kalu korban terseburt berupa bintatang, maka daging korban tersebut tidak mereka makan. Menurut Robert D. Baird dan Alfred Bloom, korban binatang ini merupakan bukti korban manusia yang pasti diterima oleh para Dewa. [13]

D.    PRAKTEK KEAGAMAAN

Dua macam upacara simbolik yang penting ialah, pertama korban manusia (purusa) sebagaimana tercantum dalam kidung kosmogonik dalam RigWeda, yang menyebutkan bahwa yang maha tinggi telah menjalani korban sarwameda di mana manusia mengakui ke Maha Kuasaan Tuhan secara universal sehingga kemudian Dewa melimpahkan segala miliknya kepada seluruh manusia.
Dikalangan rakyat umum terdapat beberapa upacara korban sebagai upacara siklus kehidupan. Dibeberapa tempat, upacara tersebut terdiri dari satu seri upacara korban kecil dengan sesaji yang sangat sederhana seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Upacara dilakukan sendiri oleh pemilik rumah selaku penanggung jawab anggota keluarganya. Upacara ini juga mementingkan api. [14]
Yang menjadi pusat pemujaan orang-orang ini adalah korban. Korban-korban itu dipersembahkan dengan maksud untuk mendapatkan kemurahan dewa-dewa menghindari diri dari permusuhan roh-roh yang jahat, dan memuja para leluhur. Pada hakikatnya korban yang dipersembahkan kepada Dewa-dewa itu bersifat permohonan, yaitu memohon keuntungan-keuntungan bagi hari depan, sehingga korban ucapan syukur bagi hal - hal yang sudah dialaminya tidak ada.
Ada dua macam korban, yaitu korban tetap, yang dilakukan tiap kali, pada waktu pagi dan sore, tiap bulan baru dan bulan purnama, tiap awal musim semi, musim hujan, dan musim dingin. Disamping itu ada korban berkala, yang dikorbankan jika ada keperluan, umpamanya korban soma, aswameda, atau koban kuda, rajasuya, dan sebagainya.
Kecuali korban - korban masih ada upacara - upacara lainnya yang harus dilakukan orang, yaitu pada waktu istri mengandung, melahirkan anak, anak berumur 4 bulan, yaitu waktu diajak berpergian untuk pertama kali, atau juga waktu anak makan yang pertama, atau waktu ia dicukur untuk yang pertama kali, dan sebagainya. Demikianlah seluruh kehidupan orang pada zaman itu meliputi oleh upacara-upacara keagamaan.[15]

v  KESIMPULAN
Orang - orang periode ini unggul di bidang pertanian dan ternak peliharaan dan hewan ternak lainnya. Dengan peningkatan bertahap dalam populasi, orang-orang menetap sebagai petani. Ras Arya yang disebut orang sebagai Jana (orang) sedangkan Janapada berarti tanah. Setiap suku Arya memiliki kepala suku dan sekelompok orang bijak membantu dia dalam karyanya. Tidak ada dominasi dari setiap individu dan kelompok bekerja bersama-sama. Para kepala suku, prajurit dan imam adalah orang-orang penting, dan memimpin masyarakat umum dalam kegiatan sosial dan keagamaan. Hewan kurban adalah sebuah upacara pengorbanan umum.
Pada Zaman Brahmana, kekuasaan kaum Brahmana amat besar pada kehidupan keagamaan, kaum brahmanalah yang mengantarkan persembahan orang kepada para Dewa pada waktu itu. Zaman Brahmana ini ditandai pula mulai tersusunnya "Tata Cara Upacara" beragama yang teratur. Kitab Brahmana, adalah kitab yang menguraikan tentang saji dan upacaranya. Penyusunan tentang Tata Cara Upacara agama berdasarkan wahyu-wahyu Tuhan yang termuat di dalam ayat-ayat Kitab Suci Weda.
Sedangkan pada Zaman Upanisad, yang dipentingkan tidak hanya terbatas pada Upacara dan Saji saja, akan tetapi lebih meningkat pada pengetahuan bathin yang lebih tinggi, yang dapat membuka tabir rahasia alam gaib. Zaman Upanisad ini adalah zaman pengembangan dan penyusunan falsafah agama, yaitu zaman orang berfilsafat atas dasar Weda.
Berbeda dengan Zaman Weda yang pola keagamaannya berkisar kepada pemujaan dewa maupun tenaga alam guna mendapatkan keberuntungan pada Zaman Upanisad ini keagamaan dibalikkan dari soal lahir menjadi soal batin. Bukan upacara maupun sesajen yang dipentingkan melainkan pengetahuan batin yang lebih tinggi yang dapat membuka tabir rahasia alam gaib itulah yang menjadi pokok pandangan hidup. Pedoman hidup yang disebut triwarga, terdiri atas Dharma (kewajiban-kewajiban agama dan masyarakat), Artha (usaha-usaha untuk mengumpulkan harta) dan Kama (usaha-usaha untuk mendapatkan kesenangan dan kenikmatan), tidak lagi dianggap mencukupi dan tidak lagi dicita-citakan. Timbullah cita-cita yang lebih luhur lagi yaitu moksa.

*      DAFTAR PUSTAKA

*      Ali, Mukti. Agama - Agama Dunia. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga press, 1988
*      Direktor Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu. Dasar - Dasar Agama Hindu. Jakarta: Kementrian Agama Republik Indonesia, 2010
*      Djam’annuri, Agama Kita: Perspektif Sejarah Agama - Agama. - : Yogyakarta, 2002
*      Hadiwijono, Harun. Sari Filsafat India. Jakarta: Gunung Mulia, 1989
*      Hadiwijono, Harun, Agama Hindu dan Budha, Jakarta: Gunung Mulia, 2008
*      Hanafih. Ketuhanan Sepanjang Ajaran Agama-Agama dan pemikiran Manusia. Yogyakarta: Bulan Bintang, 1973
*      Honig, Ilmu Agama, Jakarta: Gunung Mulia, 2009
*      Mulia, India: Sejarah Politik dan Pergerakan Kebangsaan. Jakarta: Balai Pustaka, Cet. 1. 1959
*      Thalhas, Pengantar Studi Ilmu Perbandingan Agama. Jakarta: Galura Pase, 2006


[1]. - . Agama Kita: Perspektif Sejarah Agama-Agama. Editor:Djam’annuri. (Yogyakarta: Kurnia Alam Semesta, Cet. II. ). h. 31-32
[2]. Mulia, India: Sejarah Politik dan Pergerakan Kebangsaan. (Jakarta: Balai Pustaka, Cet. 1, 1959). h. 19
[3]. Direktor Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu. Dasar-Dasar Agama Hindu (Jakarta: kementrian Agama Republik    Indonesia, 2010). h. 6
[4]. Direktor Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu. Dasar-Dasar Agama Hindu. (Jakarta: Kementrian Agama Republik Indonesia. 2010). h. 6
[5]. Mukti Ali, Agama-Agama Dunia. (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988). h. 60
[6]. Mukti Ali, Agama-Agama Dunia. (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988). h. 61
[7]. Hanafih, Ketuhanan Sepanjang Ajaran Agama-Agama dan pemikiran Manusia. (Yogyakarta: Bulan Bintang, 1973). h. 60
[8]. Thalhas, Pengantar Studi Ilmu Perbandimgan Agama. (Jakarta: Galura Pase, 2006). h. 57
[9]. Mukti Ali, Agama-Agama Dunia (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press, 1988). h. 63
[10] Harun, Hadiwijono, Agama Hindu dan Budha (Jakarta: Gunung Mulia, 2010)
[11] Harun, hadiwijono, Sari Filsafat India ( Jakarta: Gnung Mulia, 1989 ),h. 14
[12] Honig, Ilmu Agama ( Jakarta: Gunung Mulia, 2009 ),h. 82
[13] Honig, Ilmu Agama ( Jakarta: Gunung Mulia, 2009 ),h. 83
[14]. Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Budha (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2008). h. 20
[15]. Djam’annuri, agama kita: Perspektif Sejarah Agama-agama (Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2002). h. 45, Cet. II

0 komentar:

Poskan Komentar